Truth

Selamat malam,
Ditengah kepala saya yang berputar karena gejala flu dan kesedihan yang bercampur aduk, saya memutuskan untuk menyapa dunia maya melalui blog pada malam ini. Kakak saya bilang, saya sedang banyak hal yang dipikirkan, berhentilah berpikir terlalu rumit dan jalani apa adanya. Entahlah, saya juga ingin demikian, namun hal-hal dikepala saya terus bersautan sama lain, berteriak dan bertanya kenapa hal ini begini dan hal itu begitu.

Saya sedang membaca sebuah buku yang sangat membuka perspektif baru saya tentang hidup dan agama. Banyak hal tentang agama yang selama ini saya pertanyakan dan terjawab. Ah, tetapi saya tidak mau membahas hal itu disini, terutama pada malam ini. Terlalu rumit dan sedih untuk dibaca orang yang tak sengaja melintas untuk membaca tulisan ini. Saya hanya ingin bicara tentang kejujuran pada malam ini.

Dalam buku itu, Osho, berkata:
"An individual is bound to be rebel. An individual is nonconformist, he cannot conform. He can say yes only to things he feels are worth saying yes to, but it depend on his own feeling, his own intuitive understanding, his own intelligence."   

Berkali-kali dalam bukunya Osho mengulas tentang individualitas, tentang pentingnya bagi manusia untuk lebih sering melihat 'kedalam' dibandingkan keluar. Berkaitan dengan kejujuran, Osho secara tidak langsung mengatakan bahwa kejujuran hanya akan datang dari intelligence. Orang-orang yang sadar secara penuh akan pemikirannya dan memahami keadaan diluar dirinya. Orang-orang yang dalam teori Maslow sudah berada pada tahap self-actualization  atau dalam teori Adam Smith, orang yang berdiri dari sudut impartial spectator. Tidak disangka, orang-orang yang dicap begitu kapitalis dan tak beragama adalah orang-orang yang sadar akan dunia moral lebih baik. 

Mungkin saya sudah berkali-kali menulis tentang kejujuran dalam blog saya. Mengulas orang-orang yang pernah hadir. Namun, saya tidak pernah sekecewa ini pada dunia. Semakin saya tau apa yang salah, semakin pula saya merasa sedih. Saya mulai melihat hal-hal yang semakin langka dalam hidup manusia fana sehari-hari. Orang-orang mulai banyak meninggalkan apa yang sebenarnya perlu diberi makan, dan dipupuk untuk tumbuh subur: hati nurani. Institusi agama tidak lagi menolong. Dengan segala paksaan dari berbagai perspektif, Agama malah menjadi senjata segala macam kebohongan dan alat paksaan.

Malam ini, saya hanya ingin mengatakan, bahwa saya begitu kecewa. 
Saya begitu kecewa dengan banyak hal, banyak orang.
Orang yang mempermainkan kejujuran, yang menunjukan betapa bodoh dirinya. 
Bodoh, ya Manusia sekarang memang bodoh... 
Karena kita boleh jadi menipu orang di luar sana, 
Tetapi kita tidak akan pernah sampai mati bisa menipu diri sendiri, 
Sedangkan segala ketenangan hati dan kepuasan yang sejati hanya akan datang dari diri sendiri, 
"Bunga yang menunggu mekar", kata Osho. 

Sebuah nilai yang dianggap kecil dan dianggap ketinggalan zaman:  "Kejujuran". 
Begitu banyak orang yang menganggap remeh lalu kemudian hilang arah dan bertanya-tanya apa yang ia cari dari hidup.  Padahal tanpa ia sadari, ia menyusun hidupnya  dari kepingan-kepingan kecil kebohongan. 


Seorang teman mengeluhkan cara bicara saya yang terlalu jujur, 
Saya hanya menjadi orang yang tidak mau repot-repot berbohong. Banyak orang di luar sana yang bicara manis tetapi isinya kosong, dan saya disini mengatakan hal buruk tentang kejujuran. Kalau yang kalian cari adalah pembenaran akan kebohongan yang kalian susun, jangan pernah bertanya pada saya, karena saya akan bilang: 

"Jangan jadi penipu dan mencari pembenaran."

Jadi, saya sangat kecewa dan saya lelah.
Kenapa orang-orang begitu sulit mendengarkan kejujuran yang hati nurani nya teriakan?
Ah, tentu saja, karena kita hanya manusia fana yang jauh dari tahap Self-actualization yang Maslow bicarakan, orang yang tidak memiliki self-conscious seperti yang Osho bicarakan, atau light unto yourself yang Buddha bicarakan.

Maaf tulisan ini sangat meracau.
Selamat Tidur!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

Sepuluh Jam Menuju Garut (Edisi 2)